BerandaDaerahUnwar Ubah Paradigma: Kepemimpinan Perempuan Bukan Ancaman, Tapi Kekuatan

Unwar Ubah Paradigma: Kepemimpinan Perempuan Bukan Ancaman, Tapi Kekuatan

Unwar Ubah Paradigma: Kepemimpinan Perempuan Bukan Ancaman, Tapi Kekuatan

FBN,RI.com- BADUNG | Kegiatan ini hadir sebagai respons terhadap fakta yang tidak bisa diabaikan. Data KPU Provinsi Bali mencatat, hanya 10 dari 55 kursi atau 18,2% DPRD Provinsi Bali periode 2024–2029 yang diduduki perempuan.

Di tingkat birokrasi nasional, perempuan yang menduduki Jabatan Pimpinan Tinggi Madya hanya 17,8%, padahal perempuan mendominasi jumlah ASN nasional dengan 54%. Kesenjangan ini bukan soal kemampuan. Ini soal sistem dan budaya yang perlu diubah.

Kegiatan dibuka oleh Bendesa Adat Abiansemal, Ida Bagus Mas Arimbawa, yang menegaskan pentingnya keseimbangan peran antara pemuda dan pemudi sebagai tulang punggung organisasi STT.

Ketua PKM, Ida Ayu Bulan Utami Arti,S.IP.,M.Sos.*, menekankan bahwa perubahan besar harus dimulai dari lingkup terdekat. Bagi perempuan muda Bali, itu adalah Sekaa Teruna Teruni.

1.Materi dan Narasumber
Kegiatan dipandu moderator Carolia Augi Widya Putri,S.AP.,M.AP.* dan menghadirkan dua narasumber dengan materi saling melengkapi:

“Narasumber 1: Anastascia Patricia Novlina Nurak
Penguatan Kepemimpinan Perempuan dalam Organisasi
Anastascia memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan secara mendalam—mulai dari membangun kepercayaan diri, mengatasi impostor syndrome strategi komunikasi asertif, hingga cara perempuan mengambil peran strategis dalam perencanaan organisasi.
“Kepemimpinan perempuan bukan sekadar soal kuota. Ini tentang membawa perspektif, empati, dan keberanian yang justru dibutuhkan organisasi untuk tumbuh lebih kuat,” tegasnya.

“Narasumber 2: I Putu Hadi Pradnyana
STT Masa Kini: Adaptif, Kreatif, dan Tetap Berakar — Menuju Organisasi Inklusif Gender
Hadi menunjukkan dengan data bahwa STT yang didominasi satu gender dalam pengambilan keputusan cenderung menghasilkan program yang tidak mewakili seluruh anggota.
“STT inklusif bukan berarti mengorbankan tradisi. Justru organisasi yang setara gender lebih adaptif menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya,” jelasnya.

2.Momen Paling Berkesan: Dari Skeptis Menjadi Setuju
Momen paling berkesan datang dari Dede “Ketua STT Swakarya. Sebelum kegiatan, ia mempertanyakan urgensi tema kesetaraan gender di organisasi kepemudaan.

Setelah mendengar pemaparan data, terutama soal minimnya keterwakilan perempuan di posisi strategis dan dampaknya terhadap kualitas keputusan, perspektif Dede berubah.
“Saya tidak menyangka datanya separah itu. Selama ini saya kira semua sudah berjalan adil, tapi ternyata tanpa sadar, perempuan di STT kita lebih banyak mengerjakan daripada memimpin. Ini harus kita ubah bersama,” ujarnya.

Perubahan sikap Dede menjadi simbol tujuan kegiatan: inklusivitas gender bukan agenda perempuan semata, melainkan tanggung jawab bersama, termasuk pemimpin laki-laki yang memiliki kuasa membuka ruang lebih lebar bagi perempuan.

3.Organisasi Kepemudaan Harus Inklusif Gender
Pesan terkuat yang menggema adalah seruan agar STT dan organisasi kepemudaan adat Bali membangun budaya inklusif gender—bukan hanya dalam pernyataan, tapi dalam struktur, program kerja, dan pembagian peran kepemimpinan.

“Selama perempuan hanya ditempatkan di posisi konsumsi, dekorasi, dan sekretariat sementara laki-laki mendominasi posisi ketua dan pengambil keputusan, maka organisasi itu belum mencerminkan potensi penuh anggotanya. STT yang inklusif gender memastikan perempuan hadir sebagai mitra strategis dalam memimpin,” kata Hadi.

4.Kontribusi Nyata: Buku Saku Srikandi Masa Kini
Tim PKM menyerahkan buku saku Srikandi Masa Kini kepada 50 peserta. Buku ini memuat panduan praktis kepemimpinan perempuan, strategi membangun kepercayaan diri, cara terlibat dalam perencanaan strategis, hingga panduan membangun budaya organisasi yang setara gender.

5.Penutup
Kegiatan ini bagian dari komitmen Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Warmadewa dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian masyarakat yang berorientasi pada penguatan kapasitas lokal dan pemberdayaan perempuan Bali.

“Kami berharap seluruh pemuda-pemudi yang hadir hari ini menjadi agen perubahan di organisasi mereka. Karena kepemimpinan perempuan yang kuat bukan ancaman bagi laki-laki—ia adalah kekuatan bagi semua,” tutup Ida Ayu Bulan Utami Arti.(red)

*#SrikandiMasaKini #PKMWarmadewa #STTInklusifGender #KepemimpinanPerempuan #STTSwakarya #DesaAbiansemal #ProgramStudiIlmuPemerintahan

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments