Jaga Subak Jaga Bali: Kade Sudiana Dorong Bank Tani Berkeadilan ke Wakil Presiden
FBN,RI.com — JEMBRANA | Di balik gemerlap pariwisata Bali, disisi lain ada punggung-punggung yang membungkuk di sawah.
Mereka adalah petani, pilar ketahanan pangan, penjaga Subak warisan UNESCO,” United Nations Education Scientific and Cultural Organization,” sekaligus fondasi pariwisata yang selama ini jarang disorot.
Namun kenyataan di lapangan tak seindah brosur wisata. Tekanan hidup kian berat, biaya produksi melambung, pupuk mahal dan langka, tak hanya itu, bahkan akses permodalan tertutup.
Pemerhati pertanian Bali, Kade Sudiana, S.E.,S.Pd., M.M.,M.Pd.,saat ditemui di pematang sawah Subak Berawantangi, senin 29 Juni 2026, memaparkan kondisi ini membuat petani sampai “menjerit”.
Kade Sudiana, pemerhati sekaligus penggerak pertanian Bali, bersama timnya membawa suara itu hingga ke Wakil Presiden RI. Usulan yang diajukan sederhana namun strategis, yaitu membentuk “Bank Tani Berbasis Subak ,” sebagai solusi pembiayaan yang adil dan berkelanjutan.
Dua Wajah Pertanian Bali:
“Bali punya dua wajah pertanian,” ujar Kade. Wajah pertama adalah lahan basah.
Di sinilah sistem Subak bekerja, padi ditanam dua kali setahun, dengan irigasi kolektif yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia.
Wajah kedua adalah lahan kering. Di sana tumbuh kopi, kakao, dan hortikultura. Hasilnya bukan hanya pangan, tapi juga lanskap terasering yang menjadi magnet wisatawan dunia.
Sayangnya, ketika orang membicarakan Bali, yang muncul di benaknya hanyalah pantai dan hotel. “Padahal pilar yang menopang keberlanjutan Bali adalah petani. Mereka yang menjaga sawah, air, Subak, dan lanskap pedesaan,” tegasnya.
Kade Sudiana lahir dari keluarga petani, ia sebutkan mpat jerat yang membelenggu. Ia memetakan empat tantangan utama yang kini membelit petani Bali.
Pertama, biaya tinggi: Menanam padi butuh modal Rp20 juta per hektare per musim. Setahun dua kali tanam berarti butuh modal Rp40 juta, belum termasuk palawija. Di Kabupaten Jembrana, program ketahanan pangan Presiden RI memang sudah berjalan. “Tapi ketika bicara ketahanan pangan, kita harus jujur, apa persoalan petani hari ini, dan solusi apa yang harus diberikan? paparnya.
Kade Sudiana berharap, pada musim tanam ini Menteri Pertanian berkenan hadir dalam panen raya di Subak Berawantangi, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, sesuai permintaan para petani, bahwa mereka juga butuh perhatian.
Kedua, kesenjangan arus kas:
Petani butuh modal saat olah tanah, membeli bibit dan pupuk. Namun hasil panen baru bisa dicairkan empat bulan kemudian. Kesenjangan waktu inilah yang sering menjerat petani ke tengkulak.
Ketiga, alih fungsi lahan:
Pariwisata membuat harga tanah melonjak. Banyak sawah berubah menjadi villa dan pemukiman. Petani dihadapkan pada dilema, mempertahankan sawah atau menjualnya demi bertahan hidup.
Keempat, regenerasi yang melemah: Generasi muda kian enggan ke sawah. Alasannya klasik, hasil kecil, risiko besar.
Hitungan di Atas Tanah:
Data tak berbohong. Per hektare per musim, petani butuh bibit 40 kg, urea 250 kg, NPK Phonska 250 kg, biaya olah tanah Rp2,5 juta, dan ongkos tanam Rp2,5 juta. Totalnya Rp20 juta. Hasil panen rata-rata 7,5 hingga 8 ton gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram.
Bank Tani, Solusi dari Dalam Subak:
Konsep Bank Tani Berbasis Subak lahir dari kekuatan yang sudah ada. Subak terbukti tertib dalam mengatur air dan memiliki ikatan sosial yang kuat. Bank Tani ini akan menyalurkan modal untuk olah tanah, benih, pupuk, hingga panen. Cicilan akan dikembalikan setelah musim panen tiba, sesuai dengan tata kelola dan prinsip Bank Tani.
“Petani Bali tidak butuh bantuan yang sifatnya hanya sesaat. Tetapi yang mereka butuhkan adalah akses permodalan yang adil, terjangkau, dan berkelanjutan,” tegas Kade.
Beranjak ke Pertanian Organik:
Presiden Prabowo Subianto, kata Kade, telah mencanangkan perhatian penuh pada pertanian dari hulu ke hilir. Di Jembrana, pergeseran itu sudah dimulai. Skala Subak mulai beralih dari pertanian non-organik ke organik.
Subak Berawantangi menjadi contoh. Butuh tiga tahun proses. Tahap awal, pupuk non-organik dan organik dicampur 50℅ pupuk non organik dan 50℅ pupuk organik selama dua hingga tiga kali panen. Tahap berikutnya, porsinya 25% pupuk non-organik dan 75% pupuk organik. Setelah tiga tahun, disebut kan sawah sudah bisa dikatakan full sebagai lahan sawah organik.
Hasilnya, beras organik dengan bulir higienis dan nutrisi terjaga. Untuk itu, Kade mengaku siap memfasilitasi sertifikasi organik, dengan harga jual beras yang jauh lebih tinggi, masyarakat jauh lebih sehat dan kuat menuju Indonesia Emas 2045.
Petani, Fondasi Bangsa:
Bagi Kade, petani adalah singkatan dari “Pertahanan Ekonomi Tanah Air Negara Indonesia”. Menurut nya tanpa mereka, petani. Negara bisa goyah. “Untuk itu perhatian pemerintah kepada petani jangan setengah-setengah, ujarnya.
Ia menutup dengan kalimat yang mengingatkan: “Jika pariwisata adalah etalase Bali, maka pertanian adalah fondasinya. Jika fondasi itu kuat, maka Bali akan tetap menjadi kebanggaan Indonesia.
Kini bola ada di tangan pemerintah. Usulan Bank Tani Berbasis Subak diharapkan menjadi investasi jangka panjang untuk pangan, budaya, dan masa depan pariwisata nasional. (Red)
# Bank Tani #Jaga Subak # Jaga Bali #Subak Berawantangi #Pertanian Organik





