BerandaDaerahDorong Penggunaan Pupuk Organik dari Sampah Rumah Tangga, Hasil Panen Melonjak Naik...

Dorong Penggunaan Pupuk Organik dari Sampah Rumah Tangga, Hasil Panen Melonjak Naik 15 Hingga 30 Persen

Dorong Penggunaan Pupuk Organik dari Sampah Rumah Tangga, Hasil Panen Melonjak Naik 15 hingga 30 Persen

FBN-RI.com – DENPASAR | Kunjungan Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, bersama Yayasan Nusantara di terima langsung Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara. Kunjungan tersebut tindak lanjut pengolahan sampah, setelah penutupan TPA Suwung 1 April 2026.

Prof. Luh Kartini, Akademisi Universitas Udayana dan pakar lingkungan hidup, mendorong, pemerintah kota Denpasar memiliki peran penting dalam mewujudkan “Desa Mandiri Sampah” melalui TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah, Reduce, Reuse, Recycle) lebih kepada standar yang ketat pemisahan sampah dari sumber.

Untuk itu, pengolahan sampah organik berbasis sumber Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, dalam hal ini peran swasta dinilai krusial untuk mendukung pengolahan sampah, dalam kategori darurat.

Menurut nya Kota Denpasar penyumbang sampah terbesar, mencapai ( 900 – 1000 ton) perhari, sedangkan Kabupaten Badung penyumbang sampah terbesar urutan ke dua hingga mencapai (500 – 600 ton perhari) Meris!! ( 1400-1600 ton/hari) sepenuhnya belum bisa diolah secara maksimal, menurut nya masih terkendala tempat dan teknologi yang belum sesuai dengan kebutuhan.

Disamping itu, pertumbuhan penduduk dan pariwisata menyumbang peningkatan volume sampah kian tak terbendung.

Oleh sebab itu, TPS3R merupakan salah satu solusi tepat dalam mengurai sampah berbasis sumber, diharapkan dapat menggantikan peran sentral TPA Suwung.

Meski ifrastruktur seperti TPS3R telah tersedia, hasil surve di 15 titik baik di Denpasar maupun Badung menunjukkan sebagian besar fasilitas tersebut berstatus Belum Optimal

Sementara itu, sampah yang diterima oleh TPS3R masih tercampur belum ada tindakan pemisahan dari sumber, selain itu sebagian TPS3R menerima input melebihi kapasitas mesin dan tempat pengolahan.

Residu Tinggi, rata-rata TPS3R hanya mampu mengolah 20-60â„… sampah yang masuk, sisanya tetap menjadi residu yang belum ada solusinya mau di buang ke mana

Selain itu, penumpukan sampah diluar area gedung karena kecepatan pengolahan tidak sebanding dengan kedatangan sampah.

Prof. Luh Kartini paparkan, transformasi sampah organik sejalan dengan nilai-nilai Tri Hita Karana, khususnya palemahan yaitu hubungan harmonis manusia dengan alam.

Menariknya, Desa adat di Bali kini mulai menerapkan pararem wajib pilah sampah dan olah sampah organik di tingkat rumah tangga/ berbasis sumber, ujarnya.

Disamping itu, kini areal penampungan cacahan sampah organik sedang ditransformasi menjadi Pusat Pupuk Organik.

Ini bukan sekedar tempat pengolahan sampah, melainkan tambang berbentuk obat penyubur tanah yang kembali menghijaukan tanah warisan nenek moyang pertanian Bali.

Solusi ini akan mampu menyelesaikan dua masalah besar sekaligus. Sampah origanik yang selama ini dianggap musibah, di tangan Prof. Luh Kartini terurai menjadi penyubur tanah, wujudkan Bali 100â„… pertanian organik di sembilan kabupaten/kota se-Bali.

Alih fungsi lahan pertanian di Bali terus terjadi, data BPS mencatat lahan sawah di Bali menyusut rata-rata 600-1000 hektar pertahun akibat desakan pariwisata dan pemukiman.

Ditengah krisis lahan tersebut, transformasi sampah organik jadi pupuk organik muncul sebagai strategi penting dalam menjaga ketahanan pangan, kedaulatan pangan, kemandirian dan keamanan pangan daerah Bali.

Lebih lanjut ia katakan, lahan makin sempit, solusinya intensifikasi. Pupuk organik memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan c-organik, kembali menghidupkan mikroba tanah. Oleh sebab itu, tanah kembali sehat hasil panen naik 15-30â„…, meski dengan luas yang sama, ini krusial Bali tak lagi ketergantungan impor beras dan sayuran dari luar pulau.

Kedaulatan pangan kurangi ketergantungan pupuk kemia dengan harga yang fluktuatif dan stok terbatas, dengan pupuk organik dari sampah rumah tangga, petani bisa produksi input sendiri. Persoalannya apakah kita mau merubah mindset hak menentukan sistem pangan sendiri, dari hulu ke hilir tanpa di dikte pasar global.

Program penggunaan pupuk organik berkelanjutan menekan residu pestisida dari logam berat di tanah, hasilnya produksi pertanian Bali lebih aman dikonsumsi memiliki harga tawar untuk pasar wisata dan menjadi taksu Bali sebagai pulau dengan pertanian yang harmonis dengan alam.

Transformasi sampah organik bukan sekedar urusan kebersihan, ini soal menjaga tanah Bali, menjaga kedaulatan Bali dari hulu, tanah subur, pangan aman, petani mandiri Bali kuat
(red)

Prof.Luh Kartini, akademisi, dorong sampah organik berbasis sumber

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments