BerandaDaerahSuwung Ditutup,ini Kata I.B.Putu Madeg SH., MH: Kemana Sampah akan Pergi Setelah...

Suwung Ditutup,ini Kata I.B.Putu Madeg SH., MH: Kemana Sampah akan Pergi Setelah Suwung Ditutup

Suwung Ditutup, Ini Kata I.B.Putu Madeg SH.,MH: Kemana Sampah akan Pergi Setelah Suwung Ditutup

Fbn-ri.com – DENPASAR | Rencana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung oleh Pemerintah Provinsi(Pemprov) Bali menimbulkan gejolak dimasyarakat, hal tersebut mengundang Salah satu tokoh Bali, praktisi hukum, Dewan Penasihat DPP FBN (Forum Bela Negara) Republik Indonesia, Ida Bagus Putu Madeg SH.,MH.,menyuarakan apirasi masyarakat.

Menurutnya, patut dicermati,dari sisi lingkungan TPA Suwung telah lama menjadi simbol kegagalan tata kelola, Pemda maupun Pemprov Bali, tak hanya itu, gunungan sampah yang mencemari udara, air, dan ruang hidup masyarakat menjadi bukti gagalnya sistem regulasi sampah.

Namun di sisi lain, penutupan TPA Suwung juga membuka pertanyaan besar: ke mana sampah Bali akan pergi setelah Suwung ditutup?

Ida Bagus Putu Madeg SH., MH., melontarkan pertanyaan, setujukah jika TPA di stop beroperasi alias di tutup??

Ya, setuju !! jika memang itu bisa menyelamatkan lingkungan dengan alasan yang masuk akal seperti halnya pencemaran udara, bau menyengat, bahkan tumpukan sampah penyebab banjir

Masalah sampah di Bali bukan sekadar persoalan teknis pengangkutan dan pembuangan, melainkan problem struktural yang berkaitan dengan kebijakan, budaya konsumsi, kebiasaan masyarakat, hingga praktik adat dan upacara keagamaan yang secara tidak langsung menyumbang volume sampah signifikan.

Disamping itu, semua pihak jangan hanya berkutat pada diskusi atau seminar terkait sampah, tanpa ada pergerakan, yang ujung ujungnya kembali sampah menggergerkan Bali.

Diskusi maupun seminar, namun harus ada bukti kongkrit, untuk itu datangkan mesin Inisiator ( pabrik ) pengolahan sampah tanpa ada asap pembakaran, tanpa menimbulkan bau menyengat, namun aman untuk lingkungan, tegasnya.

Lebih lanjut ia menyatakan, kita sadar Masalah sampah bukan hanya di Bali saja, di kota-kota besar Indonesia pun, sampah menjadi problem mendasar. Oleh sebab itu kami meyakini masyarakat Bali memahami, namun pemimpin daerah pemegang kebijakan harus bertindak sesuai dengan kebutuhan masyarakat Bali, urainya.

Tak hanya itu, tanpa kesiapan sistemik, penutupan TPA Suwung berpotensi memindahkan krisis, bukan menyelesaikannya.
Sampah sebagai Masalah Sosial dan Lingkungan: Perspektif Teoretis
Dalam kajian sosiologi lingkungan, menegaskan bahwa masyarakat modern justru menciptakan risiko baru melalui aktivitas kesehariannya, termasuk produksi sampah yang masif.

Penutupan TPA Suwung idealnya menjadi pintu masuk transformasi menuju sistem ini, bukan sekadar pengalihan lokasi pembuangan.
Dari perspektif kebijakan publik menekankan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh empat faktor utama: komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, dan struktur birokrasi

Lebih jauh, kebijakan pengelolaan sampah masih terfragmentasi antara provinsi, kabupaten/kota, desa adat, dan desa dinas. Tanpa integrasi kelembagaan, penutupan TPA Suwung hanya akan memindahkan persoalan dari satu titik ke titik lain.
Strategi Penanggulangan Sampah Pasca-Penutupan TPA Suwung
Agar penutupan TPA Suwung tidak berujung pada kekacauan, diperlukan langkah
Penguatan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber.

Revitalisasi Peran Desa Adat. Awig-awig perlu diperkuat untuk mengatur pengelolaan sampah, selaras dengan nilai adat dan kearifan lokal.
Pendampingan Teknis Berkelanjutan. Bukan sekadar sosialisasi, tetapi pelatihan rutin dan pendampingan praktik eco enzyme, teba modern, dan biopori.
Pengembangan TPS3R dan Bank Sampah Terintegrasi. Setiap desa idealnya memiliki fasilitas pengolahan skala kecil-menengah sebagai pengganti fungsi TPA.

Penutupan TPA Suwung seharusnya ada solusi bukan sekedar menutup, melainkan titik balik pengelolaan sampah Bali. Tanpa perubahan paradigma, kebijakan ini hanya akan menjadi simbol politik tanpa dampak nyata. Pemerintah dituntut hadir secara konsisten,
Sampah bukan sekadar masalah teknis, melainkan cermin cara kita memperlakukan alam. Jika TPA Suwung ditutup tanpa kesadaran kolektif, maka yang terbuka justru krisis baru yang lebih luas dan kompleks.(red)

Penutupan TPA Suwun tantangan transisi, sampah masalah sosial,

Sampah residu ancaman ekologis sistemik

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments